×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

TOD ATAWA TAD

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

TOD itu harus nempel dengan stasiun commuter line atau LRT sesuai dengan delapan prinsip standard TOD. Bila tidak, berarti Anda tinggal di TAD.

 
Dulu tinggal di dekat exit tol, sekarang di Zaman Now tinggal di atas stasiun commuter line atau samping stasiun LRT. Namanya yang sedang keren tinggal di hunian berkonsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep TOD ini mengintegrasikan hunian apartemen dengan akses moda transportasi massal. Kalau Anda tinggal di apartemen konsep TOD di stasiun LRT atau stasiun KRL cukup turun dari apartemen, Anda sudah sampai ke stasiun commuter line.


Konsep TOD, sebut Yoga Adiwinarto, Country Director The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), sangat memerhatikan jaringan transportasi masal termasuk perencanaan untuk pejalan kaki atau sepeda. Dengan kata lain, kawasan TOD harus berorientasi untuk pejalan kaki dan pengguna angkutan umum, bukan mobil.

Prinsip Baru Pengembangan Transportasi di Perkotaan


“Banyak pengembangan yang masih menggunakan konsep Transit-Adjacent Development (TAD), bukan TOD. Karena mereka hanya fokus untuk menciptakan hunian yang hanya dekat dengan angkutan massal, namun masih menggunakan pola-pola lama,” ujar Yoga.


Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika hunian atau kawasan pengembangan dapat dikategorikan sebagai kawasan TOD. Catat, ada 8 prinsip utama dari TOD standard yang wajib dipenuhi, seperti tertera di dalam ITDP.

  1. Walk/Berjalan Kaki
    Seluruh ruas jalan di dalam area TOD mendukung berjalan kaki yang aman dan lengkap, terlindungi dari matahari dan hujan. Termasuk akses langsung jalan kaki ke setiap gedung.
  2. Cycle/Bersepeda
    Jaringan infrastruktur bersepeda tersedia lengkap dan aman (terproteksi dari kendaran bermotor). Mulai dari akses menuju jalur sepeda hingga parkir sepeda yang tersedia dalam jumlah cukup.
  3. Connect/Menghubungkan
    Rute berjalan kaki dan bersepeda pendek (lebih pendek dari rute kendaraan bermotor), langsung dan bervariasi, termasuk peniadaan pagar dan perimeter wall.
  4. Transit/Angkutan Umum
    Stasiun angkutan umum massal dalam jangkauan berjalan kaki.
  5. Mix/Pembauran
    Tata guna lahan mixed-use atau kawasan hunian yang menyatukan berbagai fungsi, baik untuk permukiman dan non permukiman, setidaknya dalam satu blok atau bersebelahan. Dengan demikian jarak berjalan kaki menjadi lebih pendek, termasuk menuju ke ruang publik.
  6. Densify/Memadatkan
    Kepadatan permukiman dan non permukiman yang tinggi mendukung angkutan berkualitas tinggi, pelayanan lokal, dan aktivitas ruang publik. Dengan begitu dapat dipastikan bahwa semua penduduk memiliki akses terhadap transportasi publik tersebut.
  7. Compact/Merapatkan
    Fokus pembangunan pada area yang telah terbangun, bukan daerah pinggiran, sehingga lebih banyak rute angkutan umum melayani area TOD. Dengan begitu, penduduk dalam kawasan maupun luar kawasan dapat tinggal berdekatan dengan sekolah, kantor, pusat jasa yang tentunya akan mengurangi kemacetan lalu lintas.
  8. Shift/Beralih
    Pengurangan lahan yang digunakan untuk kendaraan bermotor. Disarankan luas total lahan parkir yang disediakan (termasuk gedung parkir dan basement) tidak boleh melebihi 35 persen dari luas total hunian.

Menurut Yoga, langkah untuk menata ulang kawasan di sekitar koridor angkutan massal adalah dengan memperkecil ukuran blok bangunan, fasilitas pejalan kaki menerus, lajur dan parkir sepeda, tingkat kepadatan, mixed-use atau mix income development, batasi akses driveway, batasi jumlah parkir gedung, dan ciptakan kawasan yang padat jaringan pejalan kaki.

“Contoh kecil saja adalah trotoar yang sangat tidak nyaman. Ukuranya kecil dan bahkan pejalan kaki di trotoar saja juga sering ditabrak kendaraan. Belum lagi soal jalur bagi para pesepeda. Ini yang mesti dibenahi terlebih dahulu,” kata Yoga.


Selain itu, pengembang kawasan TOD juga harus menyediakan hunian terjangkau, karena hunian terjangkau merupakan elemen penting dalam inclusive TOD.

“Program insentif dan disinsentif harus mulai dilakukan. Contohnya jika dalam kawasan TOD tidak ada hunian terjangkau, maka mereka diwajibkan untuk membayar penalti yang sangat tinggi,” kata Yoga.

 
Dengan melihat 8 prinsip di atas masyarakat bisa tahu mana hunian apartemen yang betul-betul terintegrasi dengan TOD atau hanya sebatas TAD, yang masih berjarak antara hunian dengan tempat tinggal. (Pius Klobor)

You have no rights to post comments